Peran dan Kontribusi Ibnu Muqlah dalam Ilmu Khat Arab

Peran dan Kontribusi Ibnu Muqlah dalam Ilmu Khat Arab

 

Ibadurrahman Ali1

ibadurrahmanali66@gmail.com

Dinda Novalia Hasan2

dndanvliahasan@gmail.com

Jurusan Pendidikan Bahasa Arab, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

IAIN Sultan Amai Gorontalo

 

Abstrak

Artikel ini membahas tentang peran dan kontribusi Ibnu Muqlah dalam ilmu khat Arab. Tujuan penelitian ini dimaksudkan untuk mempelajari dan menambah khazanah pengetahuan mengenai ilmu khat Arab dan tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam perkembangan khat Arab itu sendiri, serta memberikan wawasan kepada masyarakat bahwa dalam setiap khat atau kaligrafi memiliki kaidah tersendiri  yang dibuat oleh para ulama kaligrafi salah astunya yaitu Ibnu Muqlah. Dalam artikel ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan kepustakaan yaitu dengan cara mengumpulkan beberapa sumber bacaan yang berkaitan langsung dengan masalah yang diteliti. Hasil artikel ini menunjukkan bahwa ilmu khat Arab tidak serta merta lahir dan berkembang dengan sendirinya melainkan dikembangkan oleh tokoh-tokoh yang berperan dan berkontribusi dalam bidang seni kaligrafi seperti Ibnu Muqlah.

 

Kata Kunci: Peran, Ibnu Muqlah, Khat Arab.

 

 

 

 

 

 

 

A.    Pendahuluan

Kaligrafi adalah salah satu karya kesenian Islam yang paling penting. Kaligrafi Islam yang muncul di dunia Arab merupakan perkembangan seni menulis indah dalam huruf Arab yang disebut khat. Definisi tersebut sebenarnya persis sama dengan pengertian etimologis kata kaligrafi dari kata Yunani kaligraphia (menulis indah). Dalam perkembangannya, huruf Arab yang menjadi obyek seni khat berkembang sesuai dengan perkembangan tempat dimana tempat asal seni khat berada.[1] Arti seutuhnya kata kaligrafi adalah suatu ilmu yang memperkenalkan bentuk-bentuk huruf tunggal, letak-letaknya dan cara-cara penerapannya menjadi sebuah tulisan yang tersusun atau apa-apa yang ditulis di atas garis-garis sebagaimana menulisnya dan membentuknya mana yang tidak perlu ditulis, mengubah ejaan yang perlu diubah dan menentukan cara bagaimana untuk mengubahnya.[2]

Dari segi terminologi, secara gamlang dikemukakan oleh Syaikh Syamsudin al-Afkani (ahli   kaligrafi) dalam kitabnya Irsyad al-Qasid pada bab Hasyr al 'Ulum: "Khat adalah ilmu yang memperkenalkan bentuk huruf tunggal, penempatannya, dan cara merangkainya menjadi tulisan atau apa yang ditulis dalam baris-baris  (tulisan), bagaimana cara menulisnya dan (menentukan   mana) yang tidak perlu ditulis,  mengubah ejaan yang perlu digubah dan bagaimana mengubahnya." Pengertian ini menjelaskan bahwa ilmu khat mencakup tata cara menulis huruf, menyusun dan merangkainya dalam komposisi tertentu demi mencapai keserasian (harmony) dan keseimbangan (equilibrium) yang dituntut setiap karya seni.[3]

Kaligrafi atau khat dilukiskan sebagai kecantikan rasa, penasehat pikiran, senjata pengetahuan, penyimpan rahasia dan berbagai masalah kehidupan. Oleh sebagian ulama disebutkan “khat itu ibarat ruh di dalam tubuh manusia”. Akan tetapi yang lebih mengagumkan adalah, bahwa membaca dan “menulis” merupakan perintah Allah SWT yang pertama diwahyukan kepada Nabi Besar Muhammad saw. Dapat dipastikan, kalam atau pena mempunyai kaitan yang erat dengan seni kaligrafi. Dapat juga dikatakan bahwa kalam sebagaai penunjang ilmu pengetahuan. Wahyu tersebut merupakan “sarana” al-Khaliq dalam rangka memberi petunjuk kepada manusia untuk membaca dan menulis.

Dengan demikian, kaligrafi menjadi salah satu seni tulisan yang berkembang hingga kini, dan memiliki peranan penting dalam perkembangan agama Islam di penjuru dunia.

Kaligrafi yang dikenal dalam bentuk ragamnya sekarang, mempunyai asal-usul yang cukup panjang dan berliku. Perkembangannya telah dimulai sejak berabad-abad yang lampau, dimulai dari pemerintahan Dinasti Ummayah (661-750 M) dengan pusatnya di Damaskus, Syria sampai pada pemerintahan Dinasti    Abbasiyah (750-1258 M) dengan pusatnya di  Bagdad, dan berlanjut lagi pada masa-masa pemerintahan Fatimiyah (969-1171 M), pemerintahan Ayyub (1771-1250 M), pemerintahan Mameluk (1250-1517 M) dengan pusatnya di Mesir, pemerintahan Usmaniah (1299-1922   M) dan pemerintahan Safavid Persia (1500-1800 M). Demikian lamanya pengembangan kaligrafi Islam berlangsung hingga mencapai kematangannya.

Dalam perjalanannya, kaligrafi Arab yang lebih sering menjadi alat visual    ayat-ayat al-Qur’an, tumbuh tertib mengikuti rumus-rumus berstandar  (al-khath   al-mansub) olahan Ibnu Muqlah yang sangat ketat. Standarisasi yang  menggunakan alat ukur titik belah ketupat, alif  dan lingkaran untuk mendesain huruf-huruf itu mencerminkan “etika  berkaligrafi” dan kepatuhan pada “kaidah murni” aksara Arab.[4]

Sebuah disiplin ilmu tidaklah lahir sekaligus di tangan seseorang. Sebuah ilmu mencapai kematangannya melalui sejarah panjang dan usaha yang berkesinambungan dari para tokohnya.[5] Hal ini juga berlaku pada ilmu khat arab yang tidak lain terjadi pada Ibnu Muqlah.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka tulisan ini akan membahas tokoh sentral yang menjadi rujukan bagi kaligrafer dari zamannya sampai hari ini yaitu Ibnu Muqlah. Peran serta kontribusi beliau yang disebut juga bapak kaligrafi karena merumuskan dasar-dasar seni kaligrafi yang kemudian dengan segala keindahan kaligrafi itu menghiasi mushaf-mushaf di zaman itu sampai dewasa ini.

B.  Pembahasan

1. Biografi Ibnu Muqlah

Abu Ali al-Sadr Muhammad ibn al-Hasan ibn Abdullah ibn Muqlah, yang lebih dikenal dengan Abu Ali atau Ibnu Muqlah, dilahirkan pada tahun 272 H/887 M. Ibnu Muqlah artinya “anak si biji mata” yang berarti anak kesayangan. Sedangkan Muqlah adalah gelar ayahnya. Ada yang meriwayatkan sebagai nama ibunya, yang apabila ayahnya (kakek Ibnu Muqlah) mempermainkannya, selalu memanggilnya dengan kata-kata: “Yaa muqlata abiha!” (“Wahai biji mata ayahnya!”).[6]

Ibnu Muqlah besar dalam keluarga yang dikenal dengan ahli kaligrafi. Sehingga ilmu khat yang dikuasainya merupakan turun temurun dari nenek moyangnya. Ibnu Muqlah yang dikenal sebagai “Imam Khattatin” (pemimpin para Kaligrafer) dan saudaranya, Abu Abdillah mendapat bimbingan kaligrafi dari Al-Ahwal al-Muharrir, salah seorang murid Ibrahim al-Syajari yang paling masyhur, hingga keduanya menjadi kaligrafer sempurna yang paling menguasai bidangnya di Baghdad pada permulaan zaman tersebut. Kejeniusan Abu Ali Ibn Muqlah dan pengetahuan mendasarnya tentang geometri (ilmu ukur) membawa kemajuan penting satu-satunya di bidang kaligrafi Arab.[7]

Beliau adalah seorang menteri atau wazir, begitulah sebutan pada zaman dahulu. Diceritakan bahwa Ibnu Muqlah kecil adalah seorang anak yang sering sakit-sakitan ditambah lagi dengan keadaan keluarga yang tidak mampu dari segi finansial. Meski demikian nantinya ia akan menjabat sebagai menteri dalam tiga periode khalifah berbeda ; al-Muqtadir, al-Qahir, dan al-Radhi. Akan tetapi dalam tiga periode itu Ibnu muqlah di-reshuffle sebanyak tiga kali karena permasalahan politik.[8] Fuad Al-Bustani dalam kitabnya Dairah al-Ma’arif menuturkan bahwa Ibnu Muqlah adalah salah satu pengikut aliran Syi’ah ekstrem ‘Ghaliyah’. Akan tetapi kebenaran pendapat ini dinilai meragukan, demikian tulis Hilal Naji dalam kitabnya Ibnu Muqlah Khaththathan wa Adiban wa Insanan.

Keahlian Ibnu Muqlah sungguh sangat beragam. Ia tidak hanya dikenal sebagai “rajanya” para kaligrafer pada masanya. Namun pemangku madrasah khat di Baghdad ini juga seorang sastrawan, penyair, penulis, politisi yang dermawan.[9]

Sepanjang hidupnya Ibnu Muqlah hanya menikah dengan satu wanita saja yang berasal dari kota al-Dinariyah. Istrinya digambarkan sebagai sosok wanita kaya dan sangat setia. Sampai-sampai ia rela menjanda sampai mati dan meminta jasad Ibnu Muqlah digali dari kuburnya untuk dipindahkan ke rumahnya. Dari seorang istri ia dikarunai lima putra yang tiga diantara mereka mahir di bidang khat. Mereka adalah Abu al-Husain Ali bin Abu Ali (w. 346 H), Abu al-Hasan Muhammad bin Muhammad, Abu al-Qasim, Abu Isa dan Abu Muhammad Abdullah. Ibnu Muqlah wafat pada tahun 940 M dan dimakamkan di pekuburan kerajaan setelah tiga kali dipindahkan.

 

 

2.    Peran dan Kontribusi Ibnu Muqlah

Di antara berbagai bentuk tulisan yang berkembang di berbagai bangsa di dunia, tulisan Arab-lah yang mengalami dinamika yang sangat spektakuler dan unik. Karena dalam khazanah tulis-menulis, tulisan Arab dalam perkembangannya tidak hanya sebagai simbol dari suatu bahasa lisan, tetapi telah memasuki wilayah dunia seni dan spiritual. Karakter-karakter khas yang terkandung dalam tulisan Arab dikembangkan sebagai suatu manifestasi simbolik artistik yang sangat indah, sehingga memberikan makna lain di samping makna yang dikandung dalam tulisan

itu sendiri.[10]

Khat Arab telah menggambarkan kepada manusia terdapat beberapa keunikan di dalam penulisan Arab. Diantara keunikan tersebut ialah bentuk huruf yang boleh disambungkan di antara satu dengan yang lain. Huruf-furuf tersebut

dipanggil huruf muwassalah iaitu huruf-huruf Arab yang boleh disambung dengan mana-mana huruf sebanyak 28 huruf dan kesemua huruf-huruf tersebut telah diputuskan oleh al-`Allamah Abi Aswad al-Du’ali (wafat 57 H). Manakala huruf-huruf yang tidak boleh disambungkan dengan huruf-huruf lain dinamakan huruf muqatta`ah yang memberi maksud huruf-huruf yang hanya ditulis berasingan dan huruf ini hanya satu sahaja iaitulah hamzah (ء). Ini bermakna huruf-huruf Arab tersebut tidak boleh direka dan ditambah oleh orang-orang Arab moden.[11]

Satu aspek yang sangat relevan dengan perkembangan bahasa menurut perspektif Islam ialah seni. Seni adalah sesuatu yang indah. Ia merupakan satu fenomena yang menjadi idaman setiap insan, kahalusan akhlak dan sentuhan jiwa telah menyemarakan lagi hati seseorang untuk menjadikan seni sebagai idaman. Seorang yang mempunyai jiwa yang halus akan melahirkan nilai-nilai seni yang lembut, manakala kekasaran sifat dan akhlak seorang akan membentuk seni yang kurang mendapat perhatian orang lain, dalam arti kata lain ia akan memudahkan seseorang menilai diri orang lain melalui sikap dan percakapan serta akhlak.[12]

Ibnu Muqlah, yang menjadi objek pembahasan penulisan ini, telah disepakati oleh para peneliti dan sejarawan bahwa ia memiliki jasa terbesar dalam bidang khat arab dan juga ia adalah orang yang pertama kali mencetuskan kaedah khat tsulutsi. Orientalis bernama Schroeder pun memuji seorang Ibnu Muqlah yang telah telah membawa tiga penemuan berbeda. Begitu juga halnya dengan khat naskhi yang ia kembangkan dari pena al-Jalil dan al-Thumar. Dinamai dengan khat naskhi karena khat ini sering digunakan dalam menulis kitab.[13] Beriring dengan berjalannya waktu, para khaththath (khatther) mulai melakukan penyempurnaan kaedah-kaedah Ibnu Muqlah hingga khat tsulutsi dan naskhi tetap lestari lebih dari seribu tahun hingga sekarang.

Menurut Didin Sirojuddin dalam bukunya Koleksi Karya Master Kaligrafi Islam bahwa khat Naskhi adalah tulisan yang sangat lentur dengan banyak putaran dan hanya memiliki sedikit sudut yang tajam seperti sudut-sudut Kūfi. Sekarang huruf-huruf Naskhi menyebar di berbagai penerbitan untuk cetakan buku, dan majalah bahkan meluas menjadi huruf-huruf komputer. Jika dibandingkan dengan gaya khat lain, Naskhi lebih mudah digunakan untuk belajar membaca para pemula.[14]

Sedangkan untuk khat tsuluts, dinamakan Khat Tsuluts karena ditulis dengan kalam yang ujung pelatuknya dipotong dengan ukuran sepertiga (Tsuluts) goresan kalam. Adapula yang menamakannya Khat Arab karena gaya ini merupakan sumber pokok aneka ragam kaligrafi Arab yang banyak jumlahnya setekah khat Kufi. Untuk menulis dengan Khat Tsuluts, pelatuk kalam dipotong dengan kemiringan kira-kira setengah lebar pelatuk. Ukuran ini sesuai untuk Khat Tsuluts Adi dan Tsuluts Jali. Khat Tsuluts yang banyak digunakan untuk  dekorasi dinding dan berbagai media karena kelenturannya, dianggap paling sulit dibandingkan gaya-gaya lain, baik dari segi kaedah ataupun proses penyusunannya yang menuntut harmoni dan seimbang.

Sumbangan Muqlah dalam kaligrafi bukan pada penemuan gaya baru tulisan, akan tetapi pada penerapan kaidah-kaidah yang sistematis untuk kaidah Khat Naskhi yang berpangkal pada huruf alif. Sistem penulisan Ibnu Muqlah berpangkal pada tiga unsur kesatuan baku: titik (yang dibuat dari tarikan diagonal pena), huruf alif vertikal dan lingkaran. Diciptakannya sebuah titik belah ketupat sebagai unit ukuran. Kemudian mendesain kembali bentuk-bentuk ukuran (geometrikal) tulisan sambil menentukan model dan ukuran menurut besarnya dengan memakai titik belah ketupat, standar alif dan standar lingkaran. Tiga poin inilah, yaitu titik belah ketupat, alif vertikal, dan lingkaran yang dikemukakan oleh Ibnu Muqlah sebagai rumus-rumus dasar pengukuran bagi penulisan setiap huruf.[15] Ia juga mempelopori pemakaian enam macam tulisan pokok (al-Aqlam as-Sittah) yaitu Tsuluts, Naskhi, Muhaqqaq, Raihani, Riqa’, dan Tauqi’ yang merupakan tulisan Kursif. Tulisan Naskhi dan Tsuluts menjadi populer dipakai karena usaha Ibnu Muqlah yang akhirnya bisa menggeser dominasi khat Kufi.

Keberhasilan Ibnu Muqlah adalah mengangkat khat gaya Naskhi, lihat contoh kaligrafi khat gaya Naskhi, Kufi dan Tsuluts:

 


                                                                         

 

 

 

Khat Naskhi

 

 

 

 

 

 


Khat Kufi

Khat Tsuluts

 

Adapun contoh kaidah penulisan khat menurut Ibnu Muqlah yang berpangkal pada tiga unsur, yaitu titik (belah ketupat), huruf alif vertikal dan lingkaran:

 

 

 

 

 

 

 


Lima kriteria standar kaligrafi yang dirumuskan oleh Ibnu Muqlah, yaitu:[16]

a.       Taufiyah (tepat), yaitu setiap huruf  harus mendapatkan usapan sesuai dengan bagiannya, dari lengkungan, kejujuran, dan bengkokan;

b.      Itmam (tuntas), yaitu setiap huruf harus diberi ukuran yang utuh, berupa panjang-pendek dan tipis-tebal;

c.       Ikmal (sempurna), yaitu setiap usapan garis  harus sesuai dengan kecantikan bentuk yang wajar dalam gaya gerak, terlentang, memutar  dan melengkung;

d.      Isyba (padat), yaitu setiap usapan harus mendapatkan sentuhan pas dari mata pena, sehingga terbentuk suatu keserasian;

e.       Irsal (lancar), yaitu menggoreskan kalam secepat-tepat, tidak tersandung atau tertahan yang dapat  merusak tulisan yang sedang ditorehkan.

Prinsip-prinsip geometrikal ini mendobrak cara penulisan Arab sebelumnya yang cenderung nisbi. Metode penulisan baru ini disebut al- Khath al-Manshubi (kaligrafi yang tersandar). Meskipun kaidah-kaidah tersebut tidak sekaku awal perintisan Ibnu Muqlah, namun perkembangan  kaligrafi selanjutnya banyak dipengaruhi oleh kepiawaiannya dalam memperindah tulisan. Buah karyanya yang dipercaya masih ada sampai sekarang hanyalah yang tersimpan utuh di Museum Baghdad, Irak. Tulisan yang terdiri dari sembilan halaman ini, yang disebut Naskhi dan Tsuluts, ditilik dari cara dan gaya penulisannya dianggap benar-benar berasal dari tangan Ibnu Muqlah sendiri.

Sebagai seorang yang mahir dalam kaligrafi, Ibnu Muqlah memiliki beberapa buah karya tulisan. Diantaranya sebagai berikut:[17]

a.       Mushaf tulisan tangannya yang ditemukan oleh Ibnu al-Bawwab di almari Baha al-Daulah bin‘Adhud di kota Syairaz.

b.      Mushaf tulisan tangannya yang dikirim ke Andalusia dan menetap di masjid jami’ al-‘Udabbas Sevilla.

c.       Risalah yang ditulis untuk gurunya Ishaq bin Ibrahim al-Ahwal.

d.      Diwan (buku kumpulan syair-syair) sebanyak 30 lembar yang sampai sekarang masih belum diketemukan.

e.       Kitab Ikhtiyar al-Asy’aar.

f.        Kitab Jumal al-Khath.

 

 

 

 

 

 

Salah satu lembaran mushaf tulisan Ibnu Muqlah dengan khat Kufi Iraqi yang tersimpan di museum Harah Afghanistan.

Barangkali tidak ada satupun orang yang membantah bahwa Ibnu Muqlah memiliki jasa besar bagi seni tulis arab. Jasanya akan selalu ada dalam buku sejarah dan tidak akan dilupakan oleh orang-orang setelahnya, khususnya para penggelut seni tulis arab. Mungkin diantara jasajasanya dibidang khatbisa terangkum dalam beberapa catatan dibawah ini:

a.       Penemu khat tsuluts sekaligus kaedah dan rumusnya.

b.      Penemu khat naskhi sekaligus kaedah dan rumusnya.

c.       Menulis dua mushaf, salah satunya mushaf yang berada di museum Harah Afganistan.

d.      Pencetus qaidah baghdadiyah yang kemudian dipelajari oleh para kaligrafer di madrasah Baghdad.

e.       Menciptakan enam macam pena ; al-tsuluts, al-naskh, al-ta’liq, al-raihan, al-muhaqqiq dan al-riqaa’.

f.        Mengenalkan warna baru dalam penulisan al-Quran dengan tulisan indah (khath badi’) dan kaligrafi berstandar (khath al-mansub).

g.      Menggunakan teori geometris matematika untuk kaedah kepenulisan arab agar kerapian tulisan lebih akurat.

h.      Lebih fokus pada bentuk huruf per-huruf.

i.        Menjadikan alif sebagai ukuran huruf-huruf lainnya.[18]

j.        Berpangkal pada titik yang dibuat dari tarikan diagonal pena dan lingkaran.[19]

k.      Orang yang pertama kali menetapkan ukuran huruf per huruf tulisan arab.

l.        Menciptakan beberapa istilah khat yang belum pernah ada sebelumnya seperti hasan al-taskyil; taufiyah, itmam, ikmal, isyba’, irsal dan hasan wadhl’; tarshif, ta’lif, tasthir, tanshil.

m.    Meletakkan dasar-dasar dalam menulis awal sampai akhir huruf dan kriteria pena.

n.      Dianggap sebagai orang pertama kali yang menjadikan khat arab sempurna dengan keindahan dan keserasian huruf-hurufnya.

o.      Merubah alif khat kufi menjadi tegak lurus setelah sebelumnya berbentuk melengkung seperti pancing.

Selain poin-poin diatas, Ibnu Muqlah juga memiliki beberapa pendapat, gagasan, maupun ulasan mengenai tentang seni tulis menulis. Salah satu diantaranya, ia membagi penulis menjadi lima macam: penulis khat sebagai kaligrafer, penulis lafdz tugasnya menulis surat, penulis ‘aqd adalah seorang akuntan, penulis hukm menjadi notulen sidang dan sekretaris hakim, dan terakhir penulis tadbir adalah sekretaris raja ataupun menteri.[20]

Terakhir dalam artikel ini, penulis mengutip dari salah seorang pujangga yang pernah memuji Ibnu Muqlah dengan gubahan syairnya:

فَصَاحَةُ سَحْبَانَ وَ خَطُّ ابْنِ مُقْلَةِ                                وَ حِكْمَةُ لُقْمَانَ وَ عِفَّةُ مَرْيَمِ

Kefasihan Sahban, Kaligrafi Ibnu Muqlah       Hikmah Luqman dan Kemuliaan Maryam

إِذَا اجْتَمَعَتْ فِي المَرْءِ وَ المَرْءُ مُفْلِسُ                                             وَ نُوْدِيَ عَلَيْهِ لَا يُبَاعُ بِدِرْهَمِ

Orang itu pasti tak ternilai lagi            Jika ada seseorang yang memilikinya semuanya

Semoga setelah masa daulah Abbasiyah keberadaan kaligrafi masih tetap eksis, berkembang, bahkan muncul beberapa ahli kaligrafi seperti Ibnu Muqlah. Walla>hu a’lam bis}s}awa>b.

 

 

 

 

 

 

 

 

C.    Kesimpulan

1.      Kaligrafi adalah salah satu karya kesenian Islam yang paling penting. Kaligrafi Islam yang muncul di dunia Arab merupakan perkembangan seni menulis indah dalam huruf Arab yang disebut khat. Definisi tersebut sebenarnya persis sama dengan pengertian etimologis kata kaligrafi dari kata Yunani kaligraphia (menulis indah). Dari segi terminologi, secara gamlang dikemukakan oleh Syaikh Syamsudin al-Afkani (ahli   kaligrafi) dalam kitabnya Irsyad al-Qasid pada bab Hasyr al 'Ulum: Khat adalah ilmu yang memperkenalkan bentuk huruf tunggal, penempatannya, dan cara merangkainya menjadi tulisan atau apa yang ditulis dalam baris-baris  (tulisan), bagaimana cara menulisnya dan (menentukan   mana) yang tidak perlu ditulis,  mengubah ejaan yang perlu digubah dan bagaimana mengubahnya.

2.      Abu Ali al-Sadr Muhammad ibn al-Hasan ibn Abdullah ibn Muqlah, yang lebih dikenal dengan Abu Ali atau Ibnu Muqlah, dilahirkan pada tahun 272 H/887 M. Ibnu Muqlah artinya “anak si biji mata” yang berarti anak kesayangan. Sedangkan Muqlah adalah gelar ayahnya. Ada yang meriwayatkan sebagai nama ibunya, yang apabila ayahnya (kakek Ibnu Muqlah) mempermainkannya, selalu memanggilnya dengan kata-kata: “Yaa muqlata abiha!” (“Wahai biji mata ayahnya!”). Ibnu Muqlah besar dalam keluarga yang dikenal dengan ahli kaligrafi. Sehingga ilmu khat yang dikuasainya merupakan turun temurun dari nenek moyangnya. Ibnu Muqlah yang dikenal sebagai “Imam Khattatin” (pemimpin para Kaligrafer) dan saudaranya, Abu Abdillah mendapat bimbingan kaligrafi dari Al-Ahwal al-Muharrir, salah seorang murid Ibrahim al-Syajari yang paling masyhur, hingga keduanya menjadi kaligrafer sempurna yang paling menguasai bidangnya di Baghdad. Beliau adalah seorang menteri atau wazir, begitulah sebutan pada zaman dahulu. Dari seorang istri ia dikarunai lima putra yang tiga diantara mereka mahir di bidang khat. Mereka adalah Abu al-Husain Ali bin Abu Ali (w. 346 H), Abu al-Hasan Muhammad bin Muhammad, Abu al-Qasim, Abu Isa dan Abu Muhammad Abdullah. Ibnu Muqlah wafat pada tahun 940 M dan dimakamkan di pekuburan kerajaan setelah tiga kali dipindahkan.

3.      Ibnu Muqlah, yang menjadi objek pembahasan penulisan ini, telah disepakati oleh para peneliti dan sejarawan bahwa ia memiliki jasa terbesar dalam bidang khat arab dan juga ia adalah orang yang pertama kali mencetuskan kaedah khat tsulutsi. Dinamakan Khat Tsuluts karena ditulis dengan kalam yang ujung pelatuknya dipotong dengan ukuran sepertiga (Tsuluts) goresan kalam. Adapula yang menamakannya Khat Arab karena gaya ini merupakan sumber pokok aneka ragam kaligrafi Arab yang banyak jumlahnya setekah khat Kufi. Untuk menulis dengan Khat Tsuluts, pelatuk kalam dipotong dengan kemiringan kira-kira setengah lebar pelatuk. Sedangkan untuk khat Naskhi, dinamai dengan khat naskhi karena khat ini sering digunakan dalam menulis kitab. Jika dibandingkan dengan gaya khat lain, Naskhi lebih mudah digunakan untuk belajar membaca para pemula.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

D. Daftar Pustaka

tp. “Biografi Singkat Tokoh-Tokoh Kaligrafi Islam Terkemuka,” n.d.

Fitriani, Laily. “SENI KALIGRAFI: Peran Dan Kontribusinya Terhadap Peradaban Islam.” EL HARAKAH (TERAKREDITASI), no. Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH (2011): 1–12. http://ejournal.uin-malang.ac.id/index.php/infopub/article/view/2014.

Gusmian, Islah. “Kaligrafi Islam; Dari Nalar Seni Hingga Simbolisme Spiritual.” Al-Jami’ah 41, no. 1 (2003).

Hula, Ibnu Rawandhy N. Qawaid Al-Imla’ Wa Al-Khat: Kaidah Menulis Huruf Arab Dan Seni Kaligrafi. 1st ed. Gorontalo: Sultan Amai Press, 2015.

Kampman, Frerik. “Arabic Typography Its Past and Its Future.” Utrecht University, 2011.

Miolo, Damhuri Dj. Noor dan Muhtar. “Kontribusi Al-Khalil Bin Ahmad Al-Farahidi Dalam Ilmu-Ilmu Bahasa Arab.” Al-Lisan: Jurnal Bahasa 5, no. 2 (2019): 148–60.

Mohd. Bakhir Hj. Abdullah. “Sumbangan Kaligrafi Arab Dalam Kesenian Islam: Suatu Kajian Sejarah.” Jurnal Usuluddin 26 (2007): 115–32. http://apium.um.edu.my/journals/journal_usul/No_Usul.php.

Rahmat, Ali Fitriana. “Sejarah Ibnu Muqlah.” Sekolah Tinggi Kulliyatul Qur’an Al-Hikam, 2014.

Sarif, Dahrun. “Pengaruh AlQuran Terhadap Perkembangan Kaligrafi Arab.” Etnohistori 3, no. 2 (2016): 10.

Yusof, Makmur dan Abdullah. “Manifestasi Khat Naskhi Sebagai Tulisan Asas Al-Quran: Kajian Terhadap Jenis Khat Naskhi Sebagai Tulisan Asas Al- Quran Mushaf Uthmani,” 2011. https://www.researchgate.net/publication/282913527%0AMANIFESTASI.

 

 

 

 

 

 

                                          



[1] Laily Fitriani, “SENI KALIGRAFI: Peran Dan Kontribusinya Terhadap Peradaban Islam,” EL HARAKAH (TERAKREDITASI), no. Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH (2011): 1–12, http://ejournal.uin-malang.ac.id/index.php/infopub/article/view/2014.

[2] Ibnu Rawandhy N. Hula, Qawaid Al-Imla’ Wa Al-Khat: Kaidah Menulis Huruf Arab Dan Seni Kaligrafi, Cet. 1, (Gorontalo: Sultan Amai Press, 2015), h. 175.

[3]Fitriani, “SENI KALIGRAFI: Peran Dan Kontribusinya Terhadap Peradaban Islam.”

[4] Ibnu Rawandhy N. Hula, Qawaid Al-Imla’ Wa Al-Khat: Kaidah Menulis Huruf Arab Dan Seni Kaligrafi, Cet. 1, (Gorontalo: Sultan Amai Press, 2015).

[5] Damhuri Dj. Noor dan Muhtar Miolo, “Kontribusi Al-Khalil Bin Ahmad Al-Farahidi Dalam Ilmu-Ilmu Bahasa Arab,” Al-Lisan: Jurnal Bahasa, Vol. 5, No. 2 (2019): 148–60.

[6] Ibnu Rawandhy N. Hula, Qawaid Al-Imla’ Wa Al-Khat: Kaidah Menulis Huruf Arab Dan Seni Kaligrafi, Cet. 1; (Gorontalo: Sultan Amai Press, 2015).

[7] Ibnu Rawandhy N. Hula, Qawaid Al-Imla’ Wa Al-Khat: Kaidah Menulis Huruf Arab Dan Seni Kaligrafi, Cet. 1; (Gorontalo: Sultan Amai Press, 2015).

[8] Ali Fitriana Rahmat, “Sejarah Ibnu Muqlah” (Sekolah Tinggi Kulliyatul Qur’an Al-Hikam, 2014).

[9] Rahmat.

[10] Islah Gusmian, “Kaligrafi Islam; Dari Nalar Seni Hingga Simbolisme Spiritual,” dalam Al-Jami’ah, Vol. 41, No. 1 (2003).

[11] Mohd. Bakhir Hj. Abdullah, “Sumbangan Kaligrafi Arab Dalam Kesenian Islam: Suatu Kajian Sejarah,” Jurnal Usuluddin, Vol. 26 (2007): 115–32, http://apium.um.edu.my/journals/journal_usul/No_Usul.php.

[12] Mohd. Bakhir Hj. Abdullah, “Sumbangan Kaligrafi Arab Dalam Kesenian Islam: Suatu Kajian Sejarah,” Jurnal Usuluddin, Vol. 26 (2007): 115–32, http://apium.um.edu.my/journals/journal_usul/No_Usul.php.

[13] Rahmat, “Sejarah Ibnu Muqlah.”

[14] Makmur dan Abdullah Yusof, “Manifestasi Khat Naskhi Sebagai Tulisan Asas Al-Quran: Kajian Terhadap Jenis Khat Naskhi Sebagai Tulisan Asas Al- Quran Mushaf Uthmani,” 2011, https://www.researchgate.net/publication/282913527%0AMANIFESTASI.

[15] Ibnu Rawandhy N. Hula, Qawaid Al-Imla’ Wa Al-Khat: Kaidah Menulis Huruf Arab Dan Seni Kaligrafi, Cet. 1; (Gorontalo: Sultan Amai Press, 2015).

[16]Dahrun Sarif, “Pengaruh AlQuran Terhadap Perkembangan Kaligrafi Arab,” Jurnal Etnohistori, Vol. 3, No. 2 (2016): 10.

[17] Rahmat, “Sejarah Ibnu Muqlah.”

[18] Frerik Kampman, “Arabic Typography Its Past and Its Future” (Utrecht University, 2011).

[19] “Biografi Singkat Tokoh-Tokoh Kaligrafi Islam Terkemuka,” (ttp,tt), h. 26.

[20] Ali Fitriana Rahmat, “Sejarah Ibnu Muqlah” (Sekolah Tinggi Kulliyatul Qur’an Al-Hikam, 2014)


Komentar